Perjalanan Mendadak 1 1/2 Hari di Yogyakarta

Bandara Adi Sucipto

Di era teknologi seperti zaman sekarang, kita dengan mudah mengakses berbagai macam informasi termasuk bagaimana kita dengan mudahnya dapat merencanakan perjalanan kita apabila kita memiliki waktu yang terbatas tapi ingin memanfaatkannya secara maksimal. Hari itu salah seorang sahabat mengajak ke Yogyakarta untuk menghadiri pernikahan rekan kerjanya. Siapa yang nolak hitung-hitung jalan-jalan gratis. hehehe.. Kami berada di sana untuk 2 hari 2 malam, setelah mengetahui tempat pesta dan jamnya saya segera menyusun rencana perjalanan kami. Berhubung teman saya baru pertama kali ke Yogyakarta tentu wajib diajak ke Candi Borobudur (walaupun letaknya sebenarnya ada di Magelang)

Kami tiba di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta pada malam hari dan dijemput oleh supir hotel. Hotel Core tempat kami menginap merupakan hotel yang baru dibangun dan letaknya tidak jauh dari bandara, tepatnya di seberang Hotel Jayakarta, yang juga merupakan tempat pesta pernikahan rekan kerja teman saya. Usai Check-in kami keluar untuk mencari makan malam, tempat tujuan kami adalah Nasi Campur Gejayan yang terletak di Jalan Affandi dan buka setiap jam 9 malam. Kami tiba disana sebelum jam 9 dan sudah ada beberapa orang yang mengantri. Setelah warung dibuka dengan cekatan para pelayannya mengambil nasi dan diberi beberapa sayur serta kita bisa memilih lauk lain, seperti ayam goreng, ikan goreng maupun telur dadar. Semakin malam semakin ramai warung ini terutama oleh anak-anak muda, mereka makan bersama di lesehan trotoar, harganya pun tergolong murah.

Setelah mengisi perut kami menuju Malioboro, suasana Malioboro malam itu sangat nyaman karena sepi, mungkin karena itu hari jumat dan bukan musim liburan. Usai mencoba kopi joss dan membeli beberapa buah tangan kami segera kembali ke hotel.

Tangga Menuju Puncak Punthuk Setumbu

 

Pemandangan dari Punthuk Setumbu
Candi Borobudur


Jam 6 pagi kami berangkat menuju ke Candi Borobudur namun sebelumnya kami mampir ke Punthuk Setumbu yang terkenal di film AADC2 dan berada tidak jauh dari Borobudur. Sampai di sini sepertinya cuma kami yang menuju ke atas sedangkan orang-orang sudah turun, memang kalau ke sini lebih bagus untuk melihat matahari terbit tapi karena penasaran tak apa lah. Dari atas sini kita bisa melihat Candi Borobudur namun sayang waktu itu tertutup awan. Di sini juga disediakan banyak spot-spot untuk berfoto, ada yang gratis juga ada yang berbayar. Ada untungnya juga datang kesiangan jadi tidak perlu repot-repot antri untuk foto.

Pemain Gamelan di Candi Borobudur
Museum Candi Borobudur

Sudah banyak pengunjung yang datang saat kami tiba di Candi Borobudur, terlihat beberapa rombongan anak sekolah mengantri di pintu masuk. Kami tidak berlama-lama disini karena pengunjung semakin ramai, setelah puas mengelilingi candi dan mengambil beberapa foto kami segera menuju kendaraan yang kami sewa. Itu pertama kalinya saya menyewa kendaraan dan menyetir sendiri jadi saya ingin sedikit berpetualang. Saya sudah merencanakan ke Bukit Menoreh, mencari sebuah kedai kopi yang cukup terkenal saat saya mencari refrensi di internet, Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat namanya. Perjalanan dari Borobudur sekitar 40 menit, jalan menuju ke sana cukup bagus namun cukup menantang dengan tanjakan dan kelokannya. Dengan bermodal Google Maps kami akhirnya tiba di sebuah kedai yang menyatu dengan rumah pemiliknya.

Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat
Kopi Menoreh & Cemilannya
‘Geblek’

Kami disambut dengan ramah oleh pemiliknya yang bernama Pak Rohmat & diberikan buku menu. Menunya tidak banyak namun cukup lengkap, ada makanan berat, cemilan juga minuman. Saya memesan kopi yang sepaket dengan beberapa cemilan. Ada cemilan khas yang bernama geblek (lek-nya dibaca seperti kata ‘jelek’ ya) yang mirip cireng yang disajikan bersama dengan gula merah cair. Kopinya juga khas karena ditanam, diolah dan diracik sendiri oleh Pak Rohmat. Dengan pemandangan yang asri dan udara yang sejuk sambil menikmati secangkir kopi & cemilan yang enak, cukup terbayarkan perjalanan kami ke sini. Kami juga diminta untuk mengisi buku tamu, bukunya besar dan ternyata banyak juga yang sudah datang kesini, tidak cuma wisatawan lokal namun juga wisatawan asing. Kami juga sempat membawa pulang kopi bubuknya serta memborong geblek yang belum digoreng. haha..

Taman Sari
Water Castle

Sesuai agenda kami lanjutkan perjalanan menuju Taman Sari yang tidak jauh dari Keraton, Taman Sari merupakan bangunan bersejarah yang dulunya merupakan taman kerajaan. Namun sekarang yang tersisa hanya kolam pemandian dan beberapa bangunan saja, sebagian dari taman ini sudah menjadi rumah-rumah warga. Tidak jauh dari kolam setelah melewati perkampungan warga terdapat sisa-sisa bangunan yang dulunya merupakan kastil atau benteng serta terdapat mesjid yang berada dibawah tanah. Kita bisa membayangkan kejayaan Keraton pada masa lalu di sini.

Es Krim dari Tempo Gelato

Tidak jauh dari Taman Sari kami mampir ke Tempo Gelato, kedai es krim yang sedang hits di Yogya, letaknya di jalan Prawirotaman atau sering disebut kampung bule karena banyak turis mancanegara yang menginap di daerah ini. Harga es krimnya cukup terjangkau dengan berbagai macam rasa yang unik seperti rasa sereh, jahe atau kemangi. O iya, coba mampir ke restoran Itali yang letaknya bersebelahan dengan Tempo Gelato, dengan harga 50 ribuan kita dapat pizza yang sangat lezat.

Kebun Buah Mangunan
Candi Prambanan

Dari Prawirotaman kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap menghadiri pesta pernikahan rekan kerja teman saya di Hotel Jayakarta. Pernikahannya dilaksanakan dengan adat Jawa dan dengan konsep Pool Party. Usai menikmati hidangan dan memberi selamat kepada pasangan mempelai, kami mendatangi satu tempat lagi yang terkenal di AADC2, Klinik Kopi namanya. Namun sayang kami kurang beruntung, tempat yang kami tuju sudah tutup. Ternyata saya salah info, dari blog yang saya baca Klinik Kopi buka sampai jam 10 malam ternyata cuma buka sampai jam 8 malam. Akhirnya kami kembali ke hotel dan mampir minum kopi di kedai kopi yang berada di ruko dekat hotel.

Bermain Panahan di Candi Prambanan

Hari kedua kami bangun pukul 04.30 pagi karena kami akan pergi ke daerah Imogiri untuk melihat matahari terbit dari tempat yang disebut negeri di atas awan. Setelah perjalanan sekitar 1 jam kami tiba di Kebun Buah Mangunan (baca: Kebun Buah Mangunan, Pesona Negeri Di Atas Awan). Kami sarapan di perjalanan menuju ke Candi Prambanan dan tiba disana sekitar jam 9 pagi, saat itu kawasan candi masih sepi sehingga kami bisa puas mengambil gambar di sana. Kami juga menyempatkan bermain panahan, dengan membayar 20 ribu rupiah kita bisa memainkan olahraga yang juga disukai oleh Presiden Joko Widodo. Kita akan diberikan busur dengan 12 anak panah dan akan mendapatkan bonus anak panah apabila mengenai sasaran paling tengah. Pengalaman pertama bermain panahan dengan pemandangan Candi Prambanan benar-benar tak terlupakan apalagi saya sempat dua kali mengenai sasaran dengan nilai tertinggi.

Tak terasa kami harus segera kembali, dengan waktu yang singkat namun dengan perencanaan yang matang kita bisa memaksimalkan jadwal liburan kita sehingga tidak ada waktu yang terbuang.