Pesanggrahan Menumbing, Jejak Sejarah di ujung Pulau Bangka

Keindahan Pulau Bangka akan pantai-pantainya memang tidak diragukan lagi. Pantai bersih dengan ombak tenang menjadi pilihan ketika berlibur ke pulau yang juga terkenal akan timah dan ladanya. Di balik keindahan alamnya ternyata Bangka juga menyimpan sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Sekitar 140 km dari pusat kota Pangkal Pinang kita tiba di kota Mentok, sebuah kota pelabuhan kecil di ujung Pulau Bangka.

Perjalanan menuju kota ini memakan waktu sekitar 2,5 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi. Dalam perjalanan kita akan melewati rumah-rumah penduduk dan perkebunan sawit. Jalanan munuju kota Mentok sudah beraspal dan bagus. Tujuan kita adalah puncak Gunung Menumbing, sebuah gunung dengan ketinggian 450m dpl. Di sini terdapat sebuah wisma yang dibangun sejak jaman Belanda. Jalan menuju kesini cukup seru dengan banyaknya tanjakan dan kelokan serta hutan di kiri dan kanan kita. Dengan membayar tiket masuk Rp 1.000,- per orang kita dapat memasuki kawasan wisma. Jarak dari pintu masuk sampai bangunan wisma sekitar 4km dengan jalan yang hanya muat 1 mobil, sehingga harus bergantian apabila ada yang ingin turun.

Pesanggrahan Menumbing

Wisma Menumbing merupakan bangunan bersejarah saksi bisu perjuangan tokoh-tokoh Proklamator Republik Indonesia puluh tahun silam. Bangunan ini merupakan salah satu rumah pengasingan yang dibangun oleh Belanda untuk membatasi ruang gerak para tokoh kemerdekaan pada saat itu. Tidak ada data pasti kapan Wisma/Pesanggrahan Menumbing ini dibangun. Yang jelas bangunan ini dibangun oleh para pekerja rodi (pekerja paksa) pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1927, sementara dari sumber lain menyebutkan Kompleks ini dibangun pada tahun 1890 dan sumber lainnya pada tahun 1932. Bangunan bersejarah ini berada di puncak gunung Menumbing dan bangunan yang berdiri di atas ketinggian 450 meter dari permukaan laut dan langsung menghadap selat Bangka. Bangunan ini merupakan aset sejarah yang harus terus dilestarikan, karena menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno dan para tokoh Republik pada masa pemerintahan kolonial Belanda di tahun 1949.

Indahnya kota Mentok dari lantai atas Pesanggrahan Menumbing

Di atas lahan seluas 2 hektar, bangunan ini berdiri tegak di ketinggian 450 m dari permukaan laut. Terdiri dari tiga bangunan, yakni bangunan utama yang terdiri dari 6 kamar dan dua paviliun terdiri dari 6 kamar dan 7 kamar. Disinilah tercetus ide oleh para tokoh pendiri republik ini melakukan perundingan dengan Belanda. Berdasarkan informasi tertulis dan terpajang di ruang 102 Wisma Menumbing, Soekarno dan sejumlah tokoh nasional lainnya dibawa ke tempat ini dibagi menjadi tiga kelompok atau rombongan. Rombongan pertama, Mohammad Hatta, Mr. A.G. Pringgodigdo, Mr. Assaat dan Komodor Udara S Suryadarma yang diasingkan 22 Desember 1948 dari Yogyakarta. Kemudian rombongan kedua, Mr. Moh Roem dan Mr. Ali Sastroamidjojo yang diasingkan dari Yogyakarta ke Menumbing Pada 31 Desember 1948. Dan rombongan ketiga, Bung Karno dan Agus Salim juga diasingkan ke Bangka pada 6 Februari 1949 dari tempat pengasingannya semula di Kota Prapat, Sumatera Utara.

Tempat tidur yang pernah digunakan Bung Karno selama di pengasingan

Sang Presiden sendiri tidak lama berada di bukit Menumbing karena kondisi tubuhnya yang tak tahan cuaca dingin pegunungan. Atas permintaannya, Bung Karno ditempatkan di tengah kota Mentok pada sebuah bangunan yang saat ini bernama Pesanggrahan Ranggam atau Wisma Ranggam. Bung Karno hanya menginap di Pesanggrahan Ranggam, namun kesehariannya boleh jadi lebih banyak di Wisma Menumbing. Bung Karno sendiri dibawa ke Bangka menggunakan pesawat pembom jenis B-25 dari Sumatera Utara ke Bangka. Tak ada yang tahu persis seperti apa suasana tokoh saat berkumpul di Menumbing. Hanya saja pilihan untuk menempuh konfrontasi dan perundingan dengan Belanda lahir di Menumbing.

Mobil Ford De Luxe dengan plat BN 10 yang pernah digunakan Bung Karno
Spesifikasi mobil Ford De Luxe

Di sini Bung Hatta membuat puisi akan arti penting Pulau Bangka bagi kemerdekaan Indonesia. Simak saja puisinya yang pernah terpahat pada lempeng besi yang sekarang ini tak tahu lagi dimana rimbanya.

Kenang-kenang Menumbing

Dibawah Sinar gemerlap terang tjuatja

Kenang-kenang membawa kemenangan

Bangka, Djokdjakarta, Djakarta

Hidup Pantjasila, Bhinneka Tunggal Ika

Puisi Bung Hatta

Puisi tersebut adalah sebagai bagian dari rasa terima kasih kepada masyarakat bangka yang tak henti-hentinya menunjukkan dukungan kepada para pemimpin bangsa selama dalam pengasingan.

Menyusuri salah satu jejak sejarah di puncak gunung Menumbing ini sangat menyenangkan. Tempatnya sangat bersih dan terawat, bahkan tidak ada kesan angker sama sekali. Dari bangunan bagian atasnya pun kita bisa melihat pemandangan kota Mentok serta Selat Bangka. Benar-benar pengalaman tidak terlupakan. Jadi jika kamu ada kesempatan ke Bangka tidak ada salahnya mengunjungi tempat ini. Karena tidak jauh dari sini kita juga bisa mengunjungi Mercusuar di Pantai Tanjung Kalian yang tidak kalah indahnya.

Bung karno dengan warga Mentok

2 Comments

Leave a Reply